Persekutuan Mahasiswa Kristen ITS

PMK yang ITS

Berjalan Bersama Tuhan

Posted by pmkitsonline on September 14, 2008

day by day walk with Jesus

day by day walk with Jesus

    “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.”

Mazmur 23:4

    Hari ini adalah hari terakhir kita kuliah untuk semester 4 tahun ajaran 2008 di ITS. Sebentar lagi akan diadakan Ujian Akhir Semester. Tidak terasa ya, sepertinya baru kemarin kita menapakkan kaki kita untuk menyiapkan semester 4 yang akan menjelang, tidak terasa kalau kemarin juga, kita telah menjalani dan menghadapi masa-masa praktikum yang katanya kayak seperti “neraka”, namun ternyata tidak. Tidak terasa kita telah menyelesaikan final project untuk sebagai syarat bagi kita agar lulus dari praktikum tersebut. Tidak terasa kan? Nah, sekarang apa yang teman dapat responi?

   Anugerah. Kalimat itulah yang penulis responi jika pertanyaan diatas diajukan kepada penulis. Penulis percaya. Semua yang terjadi ini semata-mata bukan terjadi secara kebetulan. Melainkan karena anugerahNya yang heran dan luar biasa yang masih berlaku dalam hidup kita, seperti masih berlakunya hukum gravitasi di alam semesta ini. Penulis tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi jika anugerah yang Allah berikan kepada kita, Ia ambil. Bayangkan saja jika hukum gravitasi yang diungkapkan oleh Sir Isaac Newton tidak berlaku. Apa yang akan terjadi ya?

        Kadang kita berpikir (atau seringkali), kemana saya akan pergi atau lakukan besok? “Apa yang akan terjadi berikutnya? Apakah rencana yang sudah saya buat sampai pada pekan ini akan berhasil?” BUkankah pertanyaan itu yang seringkali muncul didalam hati teman? Jika ya, coba kita lihat apa yang dikatakan Alkitab mengenai hari esok, “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting daripada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pakaian?” (Matius 6:25) Wow! Jika kita membaca satu perikop ini, Matius 6:25-34, penyertaan dan janji Tuhan sungguh amat luar biasa. Ia tidak akan pernah membiarkan kita teman! Apa itu artinya? Artinya adalah Ia selalu menemani kita kemanapun, dan dimanapun. Masihkan teman ragu akan kasih setiaNya?

      Sekarang banyak jasa-jasa untuk mengetahui apa yang akan terjadi besok, kisah cinta, peruntungan, dll (baca: ramal). Dan tidak sedikit orang yang memanfaat jasa tersebut. Bahkan sebelum hal ini menjadi tren, banyak majalah-majalah anak muda ataupun koran tertentu yang memuat mengenai apa yang akan terjadi pada minggu berikutnya pada masing-masing zodiak. Dan kebanyakan orang pun percaya. Apa teman termasuk salah satu didalamnya? Apa teman percaya apa yang dikatakan oleh peramal daripada Firman Tuhan? Apa gara-gara kedengarannya lebih memuaskan telinga jika mendengar ramalan daripada Firman Tuhan?

       Semuanya tergantung pada teman-teman. Memang, menyerahkan hidup ini total sepenuhnya kepada Tuhan itu luar biasa sulitnya. Seringkali kita tidak rela jika Tuhan meminta seluruh jiwa dan roh kita ini diserahkan total kepada Tuhan. Berpikir seribu kali karena kita berpikir apa yang telah kita rencanakan hingga 10 tahun kedepan itu adalah baik serta memiliki aset yang bagus. Tapi coba teman renungkan hal ini: Jika saudara berpikir hingga 10 tahun kedepan, maka Allah telah menyiapkan hal yang luar biasa baik hingga kekekalan. Mana yang saudara pilih?

      Menjalani hidup ini bersama Allah merupakan pengalaman yang luar biasa. Ia tahu jalan mana yang menuntun kita kepada kekekalan. Ia tahu mana yang terbaik bagi kita. Itu sebabnya mengapa Daud bermazmur pada pasal 23 “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.” Daud sudah mengerti apa yang menjadi kehendakNya. Pilihan yang didapatkan Daud pasti sangat banyak, namun Daud memilih untuk berjalan bersamaNya meskipun dalam lembah kekelaman, sebab Daud tahu, melalui jalan tersebutlah jalan kekekalan terbuka.

        Jadi, mana yang akan saudara pilih?

Posted in Renungan | Tagged: , | Leave a Comment »

Komunikasi Dan Konflik

Posted by pmkitsonline on September 9, 2008

Komunikasi dan konflik

Komunikasi dan konflik

“Siapa menjaga mulutnya, memelihara nyawanya,
       siapa yang lebar bibir, akan ditimpa kebinasaan”

Amsal 13:3

    Dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak bisa terlepas dengan manusia lainnya, misalnya dalam bekerja. Tidak mungkin diantara manusia tersebut bekerja masing-masing seperti halnya robot tanpa mempunyai “testi” kepada sesamanya, baik ketika ada masalah, bagaimana penyelesaian masalah, atau bahkan ketika masalah yang kecil tiba-tiba menjadi besar karena ulah bodoh manusia tersebut. “Testi” yang keluar juga bisa membuat manusia mempunyai semangat yang berkobar-kobar atau bahkan membuat manusia itu menjadi benci terhadap dirinya sendiri. “Testi” tersebut mungkin membuat atmosfer kerja semakin menyenangkan atau malah membuat bete dan semakin runyam. Masih banyak yang “testi” dapat perbuat dalam mempengaruhi seluruh aspek kehidupan manusia, baik itu secara langsung yang artinya langsung berdampak maupun secara tidak langsung yang dampaknya dirasakan pada waktu yang lain. Luar biasa ‘kan? Sebenarnya apa sih yang mendasari semuanya ini?
    Kalau dilihat dan dicermati, apa yang mendasari semuanya ini? Komunikasi. Manusia termasuk mahkluk sosial dan komunikasi adalah menu wajib seorang manusia supaya dapat hidup layaknya manusia lain hidup. Manusia juga harus berkomunikasi kalau tidak mau disebut zombie. Manusia dan manusia lainnya terhubung dengan apa yang namanya saling berkomunikasi. Dengan berkomunikasi, akan banyak terjalin hubungan. Dari komunikasi pula akan terjadi perpecahan. Biasanya, komunikasi yang menimbulkan perpecahan disebut dengan konflik.
    Mulut, dan didalamnya ada sebuah organ luar biasa yang dimiliki oleh manusia, lidah yang dimana didalam Alkitab disebutkan bahwa mati hidupnya seseorang ditentukan oleh lidah. Mengerikan bukan? Padahal jelas-jelas lidah kita kalau kita pegang merupakan organ yang sangat lunak. Jauh dari kesan tajam, lalu apa maksudnya Alkitab berkata bahwa lidah menentukan mati hidupnya seseorang?
  “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu” (Matius 7:1-2).  Hanya karena sebuah perkataan kita terhadap orang lain, hasilnya sangat berdampak bagi kita baik. Banyak contoh dalam Alkitab dimana peran lidah luar biasa sekali dampaknya, contohnya: karena  lidah ular, Adam dan Hawa jatuh kedalam dosa; karena lidah Hem. Hem dikutuk oleh bapanya, Abraham; karena lidah Ester dan Mordekhai, orang Yahudi diselamatkan; karena lidah Petrus, Petrus hampir saja kehilangan anugerah Allah; karena lidah seorang yang menderita pendarahan hebat, ia diselamatkan; dan karena lidah Yesus, banyak orang mengerti kebenaran dan bertobat kembali ke jalan yang benar dan masih banyak contoh lainnya dalam Alkitab.
    Lalu bagaimana caranya untuk mengekang lidah kita supaya tidak menimbulkan hal-hal yang bodoh? Apa kita harus membuat alat yang bernama “gembok lidah” supaya lidah kita tidak bisa bergerak? Atau sederhananya, potong lidah kita? Tenang teman! “…Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati…” (Matius 12:34b). Itu kuncinya, hati. Yang harus kita jaga adalah hati dan lihat apa yang dikatakan Salomo, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” (Amsal 4:23). Wow, dari hati kita akan terpancar kehidupan! Luar biasa bukan? Ini menunjukkan bahwa hati kita adalah pusat dari bagaimana kita menjalankan kehidupan kita sehari-hari. Didalam hati kita, Roh Allah bertahta. Itu mengapa Paulus dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus berkata bahwa kita adalah bait Allah dan jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia.
      Bagaimana caranya, apa yang dapat kita lakukan untuk menjaga hati kita? Firman Tuhan! Tidak ada yang lain. Paulus menasihatkan kepada kita, “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” (Filipi 4:8) Indah bukan jika komunikasi kita sehari-hari seperti apa yang dikatakan Paulus? Akhir kata, penulis hanya ingin berkata “Selidiki aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” (Mazmur 139:23-24). Tuhan memberkati kita semua!

Posted in Renungan | Tagged: , , , | Leave a Comment »

Karakter Kristus

Posted by pmkitsonline on August 31, 2008

“Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah”

I Yohanes 4:7

Jika kita membicarakan mengenai karakter Kristus, jujur, terlalu banyak yang harus disebutkan dalam renungan kali ini. Dua halaman warta tidak akan sanggup menampungnya. Di Alkitab, banyak sekali karakter Kristus yang kita temui. Dalam pelayananNya selama Kristus hidup di dunia ini, ada ajaran yang luar biasa kepada kita, Anak-AnakNya, ajaran yang tidak pernah pudar yaitu ajaran mengenai Hukum yang terutama, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.” (Matius 22:37). Allah juga tidak lupa untuk kita lakukan, yaitu saling mengasihi antara sesama “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Matius 22:39) bahkan Yesus juga berkata agar kita mengasihi musuh kita “… Apabila kamu mengasihi  orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?” (Matius 5:46).  Mengapa kita melihat karakter Kristus dari ajaranNya? Ajaran yang diajarkan Yesus adalah menceritakan siapa diriNya. Karena Yesus paling getol mengajarkan tentang kasih, maka kita menangkap bahwa salah satu dari karakter Kristus adalah Kasih.
Sebenarnya apa sih kasih itu? Apa yang saudara tangkap dari kata “kasih”? Apakah kasih sebenarnya seperti cinta? Apakah kasih itu adalah belas kasihan? Kalau kita lihat di I Korintus 13:4-7: “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu….”
Wow, betapa banyaknya banyaknya apa yang dibahas apa itu kasih. Yang membuat penulis penasaran ialah, mengapa “kasih” oleh Paulus disebut “ia”, bukannya “itu” atau “ini” karena yang kita ketahui, “kasih”  merupakan “kata sifat”. Aneh bukan? Kenapa Paulus menempatkan “kasih” seolah-olah “kasih”  merupakan “sesuatu”  yang hidup? Apakah “kasih” itu hewan? atau “kasih” itu tumbuhan? Apa “kasih” itu manusia? Atau jangan-jangan “kasih” itu merupakan mahkluk luar angkasa?
Apa yang dikatakan Paulus dalam I Korintus 13, yaitu mengenai kasih, Paulus memperlakukan “kasih” sebagai pemberian dari Pribadi dan apa yang dilakukan Paulus jika tanpa adanya “kasih” adalah sebuah kesia-siaan belaka, “Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna” (I Korintus 13:2). Bahkan Paulus menekankan bahwa jika bisa hidup namun tanpa adanya “kasih” dalam hidupnya, maka hidup orang tersebut adalah hambar, sama seperti hidup dalam dunia orang mati. Jika kita lihat di televisi, gosip-gosip yang berdar pada kalangan selebritis yang banyak kawin-cerai, jika kita lihat dalam kehidupan mereka, kenapa mereka tega melakukan hal seperti itu? Istri sudah cantik, suami sudah ganteng, Uang berlimpah, mobil tinggal pilih, kalo banjir tinggal ngungsi dirumah cadangan, namun apa yang terjadi? Kenapa dalam hidupnya banyak sekali konfilk-konfilk yang tak kunjung henti? Rasa-rasanya hidup mereka tidak ada damai sedikitpun. Kenapa? Karena mereka tidak punya salah satu karakter Kristus yaitu “KASIH”.
Apa yang sebenarnya tinggi nilainya dalam kehidupan ini? Uang? Ilmu? Posisi inggi dalam pekerjaan? Keluarga yang harmonis? Ya… hal diatas memang tidak salah, namun apa yang dikatakan Paulus? “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih” (I Korintus 13:13). Mengapa? Karena “Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir…. sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna…” (I Korintus 13:8-9)
Biasanya, kalau kita membicarakan tentang sifat seseorang, maka kita akan melihat dari orang tuanya. Bagaimanapun anaknya, baik atau buruk merupakan replika dari orang tuanya. Begitu pula dengan kita, yang telah menjadi Anak-AnakNya, Anak-Anak Terang sejak ditebus dengan darah Yesus di kayu salib. Apa yang seharusnya menjadi sifat kita? KASIH! Itu harus! Tidak ada kompromi bagi kita untuk tidak memiliki Kasih! Alkitab berkata bahwa  setiap orang  yang mengasihi lahir dari Allah! Lalu kalau tidak mengasihi, lahir dari…… s#t%n. Apa alasan kita mengasihi? “….karena Allah lebih dahulu mengasihi kita”
(I Yohanes 4:19b). Tak ada alasan bagi kita untuk tidak saling mengasihi dan itu terwujud dengan mengasihi sesama manusia, karena siapa yang mengasihi Allah, ia juga harus mengasihi saudaranya (I Yohanes 4:21)
Lalu apa? Hiduplah dalam kasih! Agar kita disebut Anak Allah, bukan anak …..s#t%n!
Tuhan Yesus memberkati!

Posted in Renungan | Tagged: , | Leave a Comment »

Tujuan Hidup II

Posted by pmkitsonline on August 17, 2008

sign of road

sign of road

Destination Please? — Part 2
Tujuan Hidup — Bagian 2

“Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:  Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!”

Roma 11:36

Pada warta edisi 180408, juga dibahas tentang tujuan hidup kita.  Dituliskan disana, bahwa jangan mentok pada dunia ini, sebab finish kita  bukanlah dunia ini, dunia yang fana, tetapi finish kita adalah surga, dimana  disana ada kesukaan bersamaNya. Amen saudara-saudara???

Lalu apakah kita hidup, bekerja, dan berkomunikasi didunia ini santai- santai saja atau tanpa beban satu apapun? Apa gara-gara dunia ini bukan  stasiun terakhir kita, maka kita berbuat tanpa hati (tidak sungguh-sungguh)?  Tentu saja tidak saudara-saudara! Dikatakan dalam Alkitab bahwa jika  kamu berbuat sesuatu, perbuatlah semuanya itu demi kemuliaan nama  Tuhan. Apa artinya saudara? Semua perbuatan yang kita lakukan haruslah  diperbuat dengan iman (bersungguh-sungguh), karena itulah yang juga  menjadi persembahan kita kepada Yesus. Jika saudara tanpa iman, maka persembahan kita juga tanpa iman dan itu tak akan berkenan dihadapan Allah. Jika kita melakukannya dengan iman, maka persembahan yang kita berikan kepada Allah juga akan berkenan dihadapan Allah. Ingat cerita Kain dan Habel dalam memberikan korban persembahan? Persembahan siapa yang diterima? Benar, punya persembahan Habel. Kenapa persembahan Habel? Bukannya Kain juga memberikan persembahannya juga? Jika saudara teliti dalam Kejadian 4:3-4a “Setelah beberapa waktu lamanya, maka Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada Tuhan sebagai korban persembahan; Habel juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya” Apa bedanya? “Karena iman Habel telah mempersembahkan kepada Allah korban yang lebih baik dari pada korban Kain….” (Ibrani 11:4).
Iman, sebuah kunci dalam kehidupan kita yang nantinya kita persembahkan kepada Allah, agar persembahan kita berkenan kepada Allah. Apa tujuan hidup saudara? Ketika saudara sudah menerima Yesus, maka satu hal yang pasti, saudara telah diselamatkan dan saudara milik Kristus! Artinya apa? Hidup ini adalah bukan milik kita lagi! Melainkan Kristus yang telah hidup dalam diri kita! Jika saudara tahu mengenai hal ini, apa yang dapat saudara simpulkan mengenai tujuan hidup saudara? Berimanlah padaNya! Percayakan seluruh hidupmu pada Yesus sebab Dia tahu dan mengerti yang terbaik bagi saudara. Jalani hidup saudara yang sekarang dengan iman dan penuh semangat. Jangan seperti orang-orang yang belum mengenal Allah, mereka mengandalkan kemampuan mereka sendiri. Juga, tidak sedikit dari Anak-AnakNya cenderung menggunakan kekuatannya sendiri dalam mencari tujuan hidupnya. “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN yang menaruh harapannya pada TUHAN!” (Yeremia 17:7) Jadi mana pilihan saudara? Bagaimana saudara menentukan pilihan hidup saudara?
Seringkali penulis bertanya-tanya, siapakah tokoh utama dalam hidup ini? Siapakah aktor dan sutradara dalam hidup ini? Seringkali yang muncul adalah: Aku tentu saja! Siapa lagi kalo bukan aku? Itu adalah pikiran lama kita, pikiran lama yang masih belum ditebus oleh Darah Kristus. Semuanya masih saja berkutat pada self-centre yang berkata semuanya adalah aku. Ketika kita telah ditebus dan lahir baru, dalam perjalanan kehidupan Kristen kita, muncul sebuah pemikiran baru. Ya, My life is all about Jesus, My Saviour and My King, sudah tak ada lagi kebanggaan lain dalam diri kita sendiri selain memilikiNya dalam diri kita. Kecongkaan yang biasanya menghiasi diri kita karena memiliki kemampuan berlebih, tiba-tiba saja sirna karena menyadari semuanya ini adalah anugrah dan pemberian dariNya. Jadi kesimpulannya, hidup kita tidak lagi menceritakan siapa kita, apa yang kita peroleh, apa yang menjadi tujuan kita, namun semuanya kehidupan kita menceritakan Anugrah dan KasihNya yang ada pada diri kita.

Selanjutnya apa? Imani bahwa hidupmu, tujuan hidupmu ada didalam rencana indahNya serta berikan kemuliaan kepada Allah melalui hidupmu, karena Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Tuhan Yesus memberkati!

Posted in Renungan | Tagged: , | Leave a Comment »

Menjadi Saksi

Posted by pmkitsonline on June 26, 2008

Menjadi Saksi

   “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksiKu di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi”

Kisah Para Rasul 1:8

    Kemarin, kita telah merayakan hari Kenaikan Yesus Kristus di Gereja kita. Apa yang Yesus “titip pesan” kepada kita? “…menjadi saksiKu…” Kata Yesus. Apa itu saksi? Gampangannya, jika kita lihat dalam sebuah sidang baik itu bertaraf daerah hingga internasional, kita akan melihat adanya komponen yang namanya saksi. Ketika hakim ketua mulai menguak cerita sebenarnya dari tersangka, hakim ketua akan bertanya kejadian sebenarnya kepada saksi. Terserah saksi tersebut, apakah ia akan mengatakan yang sebenarnya atau tidak. Jika sang saksi tidak mengatakan hal yang sebenarnya maka yang terjadi tentu saja 180 derajat berbeda dengan jika sang saksi tersebut mengatakan hal yang sebenarnya. Seorang
saksi dapat menguatkan maupun melemahkan  posisi dari tersangka dalam suatu pengadilan. Tergantung keputusan dari saksi tersebut.

     Nah, Yesus berpesan kepada kita agar kita menjadi saksiNya. Apa yang kita katakan mengenai Yesus saat kita ditanya oleh orang-orang diluar Yesus? Apakah kita diam saja atau hanya berkata “Aku ga terlalu rajin ke Gereja koq. Hal-hal kayak gitu biasanya  urusan Pendeta. Aku ga melok-melok” Itu kah? Pasti dan tentunya kita bingung saat ada orang yang menanyakan hal itu kepada kita, itupun juga terjadi pada Petrus. Tidak main-main, Petrus bahkan ditanyai oleh tiga orang, apakah Petrus mengenal yang namanya Yesus. Apa yang dijawab oleh Petrus? “Aku tidak tahu, apa yang engkau maksud” (Matius 26:70b), “Aku tidak kenal orang itu” (Matius 26:71b),  “Maka mulailah Petrus mengutuk dan bersumpah: Aku tidak kenal orang itu” (Matius 26:74). Tiga kali Petrus menjadi saksi yang menyangkal Yesus. Seperti apa yang telah dikatakan Yesus, bahwa Petrus akan menyangkal Dia sebanyak tiga kali sebelum ayam berkokok. Kemudia apa yang terjadi? “Lalu ia pergi keluar dan menangis dengan sedihnya” (Matius 26:75c)

    Menjadi saksi yang keliru yang luar biasa dari Petrus ini membuat hati Petrus hancur luar biasa. Tentu Ia ingat dengan apa yang dikatakan Yesus bahwa siapa yang tidak mengakui Yesus dihadapan manusia, maka Yesus pun tidak akan mengakui dia dihadapan Bapa. Saya yakin, inilah yang menjadi titik tolak kebangkitan Petrus dalam melayani Yesus. Petrus mulai bertobat dan ia kembali ke jalan dimana dia seharusnya berada. 

   Bagaimana dengan kita? Biasanya dalam memikirkan suatu persoalan, didalam otak kita akan selalu timbul 5w dan 1 h. What? Tentu kita inging menjadi saksi Kristus yang benar. Where? Dimana kita ditempatkan tentu saja. Baik kita di ITS, kost maupun diluar kota, jangan pernah menyangkal Yesus. Who? Siapa yang menjadi saksi? Tentu saja semua Anak-AnakNya! Tak ada suatu kompromi apapun bagi kita untuk menolak menjadi saksiNya!  When? Sekarang juga! Jika kita sebelumnya, atau dalam bahasa kerennya, old version selalu menunda-nunda atau malu berkata “Yesus adalah Tuhanku”, maka bertobatlah! Jangan sampai rasa bersalah menghantui kita! Why? Karena itu adalah suatu pesan yang ingin Yesus beritakan kepada dunia ini setelah Ia terangkat ke surga. Ia ingin kita menggenapkan rencanaNya. How? Ini yang paling susah. Kita tidak mungkin dapat melakukan semuanya ini dengan usaha dan kekuatan kita sendiri. Kita membutuhkan penolong yang memberi kekuatan dan keberanian untuk menjadi saksi. Penolong tersebut adalah Roh Kudus.

     Lalu apa? Pertama-tama, minta kepada Bapa seorang penolong yang lain dan kemudian, jangan pernah malu mengakui Dia sebagai Tuhan dan Sahabat kita! Tuhan memberkati!

Posted in Renungan | Tagged: | Leave a Comment »

Diselamatkan Untuk Menyelamatkan

Posted by pmkitsonline on June 13, 2008

Diselamatkan Untuk Menyelamatkan
Saved To Save

   “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga”

Matius 5:16

  Apa tujuan kita membeli sebuah lampu atau lentera? Tentu untuk menerangi daerah yang gelap bukan? Tentu tidak masuk akal jika kita membelinya jika kita memanfaatkannya pada waktu siang hari. Kenapa lampu atau lentera kita letakkan ditempat yang gelap? Mungkin terdengar sebuah pertanyaan yang bodoh, namun pertanyaan ini mengandung makna yang sangat dalam sekali. Yesus sendiri berkata, “Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.” (Matius 5:15) Jadi apa gunanya kita letakkan lampu atau pelita ditempat yang gelap? Jawabannya tidak lain adalah untuk menerangi sekelilingnya.
 
  Sebuah perintah dari Yesus ketika Ia sedang berkhotbah di bukit. Sebenarnya apa yang Yesus inginkan dari orang-orang yang telah mengikut Yesus? Ternyata jawabannya sederhana, menyelamatkan orang lain yang masih belum mengenalNya. Mengapa Yesus menginginkan hal ini? Jangan lupa dengan apa yang telah Yesus telah lakukan terlebih dahulu kepada kita. “… yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diriNya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” (Filipi 2:6-8). Yesus yang telah mengambil inisiatif pertama kali untuk merendahkan diri dan menebus kita dari dosa dengan darahNya yang tercurah diatas kayu salib. Yesus menginginkan hal yang dibuat Yesus juga dilakukan oleh kita, Anak-AnakNya yang akan mewarisi kerajaan Surga. Ia menginginkan kita untuk menyelamatkan orang lain yang masih belum percaya (dalam gelap).

    Parahnya, ketika kita mendengar kata “menyelamatkan” pikiran kita sudah terprogram “pendeta”. Jadi kita selalu berpikiran, “Loh, yang mencari dan menyelamatkan ‘kan tugasnya pendeta”. Salah besar saudara. Mungkin alasan kita adalah, untuk menyelamatkan jiwa, butuh pengetahuan Alkitab yang tinggi, ingatlah kepada ahli-ahli Taurat.. Kenapa mereka yang menurut Yesus adalah pendusta? Karena mereka tidak melaksanakan Firman Tuhan, mereka hanya omong thok. Jadi untuk menyelamatkan orang (menjadi cahaya), satu hal yang pasti dapat kita lakukan, yaitu menjadi contoh buat mereka. Sederhananya, perbuatan kita harus mencerminkan sikap hidup Anak-Anak terang. Misalnya saja dalam kehidupan sehari-hari: dengan selalu berbuat yang terbaik atau yang barusan terjadi, saat-saat yang paling menggoda: UTS. Bagaimana saudara? Sudahkah saudara menjadi terang?

     Jangan sampai kita kehabisan “minyak” dari lentera kita. “… Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang” (Matius 5:13). Maksudnya apa? Paulus mengatakan bahwa ketika setelah ia telah memberitakan injil, jangan sampai Paulus sendiri ditolak. Apa ketakutan terbesar Paulus? Tinggi Hati! Paulus selalu menekankan bahwa semua yang dapat ia lakukan semata-mata adalah kasih karunia yang telah diberikan Yesus kepadanya. Pada Injil Matius 23:1-13, diceritakan mengenai lima gadis bijaksana dan lima gadis bodoh. Lima gadis bijaksana membawa cadangan minyak sedang yang bodoh tidak. Ketika malam tiba, semua pelita gadis tersebut habis. Lalu siapa yang dapat bertahan? Lima gadis yang bijaksana. Paulus menekankan kepada kita, supaya kita selalu menjaga hati kita terutama kepada yang namanya tinggi hati. Kadang kala kita merasa, ketika kita melakukan hal-hal yang baik, kita merasa lebih baik daripada orang lain. Hati-hati saudara! Itu tinggi hati! Tinggi hati selalu muncul dalam diri kita, entah yang kita sadari atau tidak. Namun tinggi hati sangat berbahaya jika tidak dibuang. “Karena itu, berjaga-jagalah,…” (Matius 25:13a). Dan ingat “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” (Amsal 4:23)

     Lalu selanjutnya apa? Bersyukurlah karena kita hidup dalam anugrah dan jadilah terang bagi meraka yang terhilang sambil menjaga hati kita tetap tertuju kepada Kristus! Tuhan memberkati!

Posted in Uncategorized | Tagged: , | Leave a Comment »

Tujuan Hidup – Destination Please??? Part One

Posted by pmkitsonline on May 31, 2008

    “…. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.”
Yakobus 4: 14b

     Keras. Itulah kata pertama yang keluar dari dalam diri kita. Surat Paulus kepada Yakobus mengatakan bahwa hidup kita sama seperti uap. Kita dapat mengetahui bahwa uap cepat munculnya dan cepat hilangnya. Apa artinya? Paulus menekankan bahwa arti hidup yang kita jalani tidak ada sama sekali. Pengetahuan, dan hikmat adalah sia-sia seperti yang dikatakan pada Pengkhotbah 1:9, dikatakan sama dengan menjaring angin. Namun apa yang kemudian dikatakan Paulus dalam perikop ini? Paulus menekankan bahwa dalam merencanakan sesuatu, kita jangan melupakan Tuhan dalam segala perencanaan.

    Tujuan hidup kita; sebuah suatu bahan perenungan yang sangat sederhana sekali, namun yang paling sulit menemukan jawabannya. Apa tujuan hidup saudara? Jika kita lihat tujuan hidup Yesus adalah menyelamatkan umat manusia dari kutuk dosa. Apakah Yesus menyerah begitu saja waktu Ia dibawa Roh Kudus ke dalam pencobaannya iblis? Apakah Ia mengeluh? Apakah Ia menyerah ketika harus berhadapan dengan cambuk? Apakah Ia menyerah ketika maut ada didepannya? Tidak saudara. Apa yang membuat Yesus sedemikian kuat terhadap semua pencobaan yang Dia alami hingga Ia mati di kayu salib? Itu tidak lain karena cintaNya kepada kita (Yohanes 3:16). Apakah tujuan hidup Yesus baru terbentuk ketika Yesus sudah dewasa? Tidak saudara! Allah telah merencanakannya sejak awal mula. Begitu juga dengan kita. Allah telah merencanakan rencana yang luar biasa bagi kita. Tinggal keputusan dari kita, mau apa tidak mengikuti rencanaNya.

    Dalam perjalananNya dalam menyelamatkan manusia, Yesus tidak pernah lupa dengan rencana yang telah disiapkan Bapa dalam mencapai tujuan mulia tersebut. Yesus tidak pernah sekalipun membantah apa yang dikatakan Bapa. Puncak dari ketaatan Yesus diuji saat Dia hendak diserahkan kehadapan mahkamah agung. Yesus berkata, “Ya Bapaku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari padaKu; tetapi bukanlah kehendakKu, melainkan kehendakMulah yang terjadi” (Lukas 22:42).

   Saudara, hendaklah kita meniru apa yang telah Yesus lakukan, baik itu dalam penentuan tujuan hidup dan bagaimana penggenapan dari tujuan hidup itu sendiri. Ketika kita mengandalkan kekuatan kita sendiri dalam mencari tujuan hidup, maka semua akan menjadi sia-sia. Kita tidak dapat berjalan sendiri dalam dunia ini sebab arah dunia ini tidak menentu, “Sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok” (Yakobus 4: 14a).

    Sebagai manusia biasa, tentu yang menjadi tujuan utama dari kita adalah menjadi pintar, cerdas dan pada ujung-ujungnya ingin menjadi kaya. Namun apa yang dikatakan oleh Paulus bahwa karena pengenalan akan Kristus, semuanya dianggap rugi. Paulus mengajak kita untuk membuat apa yang bersifat kedagingan dinomorbawahkan. Jangan sampai kita sendiri diperhamba oleh kedagingan kita.

   Apa kunci dalam pencarian tujuan hidup kita? Kunci itu tak lain adalah penyerahan total kepada Allah. Jangan sampai ada ketinggian hati yang muncul, sebab Allah sangat membenci orang-orang yang congkak. Seperti Yesus yang berserah total kepada Bapa, maukah kita belajar seperti Yesus?

   Pengejaran yang kita lakukan terhadap apa yang selama ini kita cari, ternyata adalah kesia-siaan belaka, seperti apa yang telah dikatakan di dalam Yakobus 4: 14b. “Supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri dihadapan Allah” (I Korintus 1:29). Allah mengerti hati manusia. Maka dari itu, dunia ini bukanlah pemberhentian terakhir bagi kita, namun surga yang menjadi tempat pemberhentian kita. Jangan mentok dalam mencari tujuan hidup yang semu, tetapi carilah tujuan hidup yang kekal!

   What to do next? Go with peace, involve God in your plan and search Your eternity destination with God! God Bless You All!

Posted in Renungan | Leave a Comment »

Fase Kematian, Kebangkitan Yesus 11 April 2008 (PAB)

Posted by pmkitsonline on May 24, 2008

Fase Kematian, Kebangkitan Yesus

   “…, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari” (Markus 8:31b)

   Apa hubungannya antara Yesus dan fase? Sekarang kalau pertanyaannya apa hubungan kupu-kupu dengan fase? Pasti ada gambaran di benak kita, hubungan kupu-kupu dan fase adalah sebuah metamorfosis dari sebuah kepompong kemudian ulat dan akhirnya membentuk sebuah kupu-kupu yang indah.
 
   Fase yang dialami Yesus, sebuah bagian yang tidak terpisahkan dari karya penyelamatan umat manusia dari kutuk dosa. Fase Yesus dalam penyelamatan manusia dimulai sejak Dia lahir. Tentu, fase Yesus tidak langsung dari bayi kemudian menjadi dewasa. Ketika Ia kecil, Ia menjalani hari-hari yang sama seperti anak-anak lainnya. Saat Yohanes pembaptis datang dan membaptis Yesus, Pekerjaan besarNya telah dimulai. Ia mengubah air menjadi anggur, ia menyembuhkan orang buta, dan orang kusta, ia membangkitkan orang mati, berkhotbah di depan banyak orang, membuat mujizat dengan mengubah lima roti dan dua ikan menjadi sangat banyak bahkan tersisa 12 bakul. Apakah cukup berhenti sampai disitu? Apa Yesus berkata “Bapa, Aku sudah banyak melakukan banyak mujizat,  apakah Aku boleh berhenti sekarang dan kembali bersamaMu lagi?” Apakah Allah yang kita sembah berakhir di alam maut? Definitely not my friend! He is rise!
  
   Dua fase diatas, fase kematian dan fase kebangkitan adalah dua fase penting dalam karya penyelamatan umat manusia. Tanpa kedua fase penting tersebut, manusia akan beroleh upah maut. Tidak ada seorangpun yang dapat menyelamatkan manusia dari dosa selain Yesus sendiri. Kenapa Yesus? Karena Yesus adalah 100% Allah dan 100% manusia yang hidup di bumi tanpa ada satupun dosa. Itu perbedaannya. Yesus menebus dosa manusia dengan membayar harga yang sangat mahal, yaitu menebus dengan nyawaNya. Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan emas atau perak, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat (I Petrus 1 : 18-19). Apa yang akan terjadi pada kita jika Yesus waktu di Taman Getsemani (Pada waktu Ia bergumul), Ia menolak rencana Bapa? Apa yang akan terjadi jika Yesus merusak fase penyelamatan yang semuanya telah dirancang Bapa demi menyelamatkan umat manusia? Sungguh ngeri! Kita bisa bayangkan jika hal itu terjadi… Tirai Bait Allah tidak akan sobek dan sampai hari ini, mungkin kita masih hidup dalam Hukum Taurat, mata ganti mata dan gigi ganti gigi, tidak ada pengampunan, ngeri!
 
  Pertanyaannya sekarang adalah mengapa banyak orang Kristen yang jatuh? Mengapa banyak yang meninggalkanNya? Tidak lain jawabannya adalah Orang Kristen hanya mau mengenalNya saat berada di fase bangkit. Di fase bangkit, hidup Orang Kristen akan serba berkecukupan. Hidupnya seperti dibaringkan oleh Allah di padang yang berumput hijau, berkat terus mengalir dan terhindar dari segala penyakit dan marabahaya. Kita semua merindukan akan hal ini. Tidak ada yang menolak. Namun bagaimana jika di berada di fase kematian? Ketika Dia bersama-sama kita di lembah kekelaman, bisakah kita bertahan? Ketika usaha kita anjlok, rencana kita berantakan, hasil yang kita impikan ternyata jauh dari perkiraan kita, maukah kita tetap bersamaNya? Jika Yesus saat itu menolak berjalan dalam lembah yang kelam, yang artinya jalan menuju Bukit Golgota, kita saat ini pasti akan binasa.

     Mungkin dalam benak kita, akan berkata, “Terus, bagaimana? Padahal aku udah setia melayani Dia, setia kepada Dia, tapi mengapa hal buruk masih terjadi pada aku?”, Yah, itu yang akan selalu menghantui kita selama ini. Jika ini yang terjadi pada diri kita, coba periksa hati kita, apakah kita mengasihi Dia? Apakah kita mengikut Dia hanya karena berkat jasmani saja? Kita adalah AnakNya bukan? Apa tega seorang ayah memberikan ular jika seorang anak meminta roti? Apalagi Bapa kita di dalam Surga, Ia pasti telah merancangkan rancangan terbaik pada kita. Ingat “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gadaMu dan tongkatMu, itulah yang menghibur aku” (Matius 23:24).

       Lalu selanjutnya apa? Live in His peace! Because He with us! God Bless!

Posted in Renungan | Leave a Comment »

Page2nya bingungi

Posted by pmkitsonline on May 23, 2008

Buat yang uda nunggu2 dimana page downloadnya kok kosong, ini disebabkan karena kebingungan admin dalam menambah sebuah post baru di sebuah page baru selain “home” dan “about”. Itupun “about” juga ga bisa ditambah2in. Aduh!!! Jadi sebagai langkah konkrit dari admin, halaman download akan diganti di bagian kategori unduh2. Jadi selamat mebgunduh ya!

Posted in Cuman halo-halo, pengumuman!!! | Leave a Comment »

DIA BANGKIT!

Posted by pmkitsonline on May 15, 2008

Kuburan Yesus

Dia Bangkit!

 “Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, diantara orang mati? Ia tidak ada disini, Ia telah bangkit…..”

Lukas 24:5b-6a

 Rencana Allah sudah genap,dalam penyelamatan manusia. Allah telah membuat sebuah”jembatan” yang menghubungkan Allah dengan manusia sehingga komunikasi terjadi Allah memiliki rencana agung dalam penyelamatan umat manusia, Allah Anak turun ke bumi lahir sebagai bayi di kandang domba, hidup mengerjakan karya keselamatan bagi umat manusia dan puncaknya adalah mati demi meng-
hapus DOSA manusia yang sudah terlampau parah.    Kemudian pada hari ketiga setelah kematian, DIA akhirnya bangkit. Ya, bangkit mengalahkan maut.
masuk ke dalam hati kita (Lukas 24:29).

 Pada saat itulah, Yesus akan menyatakan diriNya kepada kita. Di Yohanes 20, saat Yesus menampakkan diriNYA pada Tomas, Tomas tidak mempercayai kalau Yesus telah bangkit. Tomas bersikeras kalau dia akan percaya jikalau Tomas sendiri melihat bekas paku pada tangan Yesus dan memasukkan jarinya ke dalam bekas paku di tangan Yesus serta di lambung akibat tikaman prajurit. Apa yang terjadi? Ketidakpercayaan Tomas ditantang oleh Yesus, DIA menyuruh Tomas meletakkan jarinya ke tangan serta lambung Yesus, Lalu Tomaspun percaya. Lalu apa jawab Yesus saat itu? “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya” (Yohanes 20:29). Dari nats ini, dapat disimpulkan bahwa bukan orang diluar Kristus yang memiliki kesempatan untuk tidak percaya pada kebangkitanNYA. Orang Kristenpun juga akan mengalami hal yang sama, seperti halnya Tomas, dan jumlahnyapun tidak sedikit. Kejadian seperti ini juga telah dikatakan oleh Alkitab dalam Matius 28:11-15. Setelah Maria Magdalena dan Maria yang lain mengerti bahwa Yesus telah bangkit dari antara orang mati, mereka langsung menceritakan kepada saudara-saudara Yesus bahwa Yesus yang telah disalibkan tiga hari yang lalu telah bangkit mengalahkan maut. Beberapa orang dari para penjaga yang menjaga kubur Yesus juga ikut-ikutan menceritakan kebangkitan Yesus pada imam-imam kepala. Lalu imam-imam kepala berunding dengan tua-tua dan membrikan uang kepada para penjaga supaya berkata bahwa Yesus tidak bangkit, melainkan dicuri oleh murid-muridNYA pada waktu malam. Ternyata berita ini “laku keras” hingga sekarang.

 Adalah anugrah yang besar dan luar biasa bagi kita, yang masih tinggal dan berakar dalam Yesus, karena kita akan “hidup” dan “berbuah” banyak bagi kemuliaan namaNYA. Dia akan mengadakan perjamuan pribadi dengan kita. Masuk ke dalam kebahagiaan kekal. Oleh karena itu, kenallah Tuhan kita,  Yesus Kristus dalam kuasa kebangkitanNya yang sangat luar biasa. Kebangkitan Yesus mengalahkan maut menjadi tanda bagi umat Kristiani dimana Allah tidak akan pernah sekali-kali meninggalkan anak-anakNYA  yang hidup sejalan kehendakNYA. IA tidak akan pernah membiarkan kita jatuh tergeletak jika kita selalu hidup menjauhi kejijikan Allah. “…..Siapa yang akan menggulingkan batu itu bagi kita dari pintu kubur?” (Markus 16:3b). Ini adalah tantangan yang mustahil bagi Maria Magdalena dan Maria yang lain untuk menggu lingkan batu yang besar itu. Lalu apa yang terjadi? “Maka terjadilah gempa bumi yang hebat sebab seorang malaikat Tuhan turun dari langit dan datang ke batu itudan menggulingkannya lalu duduk diatasnya (Matius 28:2)”. Bahkan pada injil Markus 16:4,  Lukas 24:2 dikatakan bahwa saat mereka tiba disana, batu yang memang sangat besar itu sudah terguling. Bukankah luar biasa saudara? Allah kita mengetahui apa yang menjadi keperluan kita! Jangan kuatir menghadapi hari esok! Sebab Allah beserta selalu dengan kita.

 Lalu selanjutnya apa? Apa tindakan kita selanjutnya? Hiduplah dalam damai Kristus!
     
     ————————-

YESUS
DATANG sebagai Tuhan dalam tubuh manusia
HIDUP dalam kehidupan tanpa dosa sebagai ganti kita
MATI demi dosa-dosa kita
BANGKIT untuk menyelamatkan ktia dari kematian
NAIK ke surga untuk menyediakan tempat tinggal bagi kita di surga
AKAN DATANG SEGERA untuk membawa kita bersamaNya selama-lamanya.
Diolah dari berbagai sumber
 Banyak orang yang meragukannya. Kenapa mereka meragukan kebangkitan Yesus? Karena mereka terhalangi oleh “sesuatu” sehingga mereka tidak dapat mengenal DIA (Lukas 24:16). Apa “sesuatu” itu? “Sesuatu” itu adalah pengetahuan kita akan Allah yang kurang dan lambannya hati kita karena kita selalu menutup dan mengeraskan hati kita terhadap apa yang dikatakan Allah (Lukas 24:25).  Bagaimana dengan kita? Apakah kita percaya bahwa Yesus bangkit hanya dari kata orang saja? Atau adakah yang masih menghalangi kita, sehingga Yesus belum masuk ke dalam hati kita? Yesus mau menolong kita. Dia mau menjelaskannya sekali lagi, dengan syarat kita mau untuk mengajak Dia

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »