“Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.”
Mazmur 23:4
Hari ini adalah hari terakhir kita kuliah untuk semester 4 tahun ajaran 2008 di ITS. Sebentar lagi akan diadakan Ujian Akhir Semester. Tidak terasa ya, sepertinya baru kemarin kita menapakkan kaki kita untuk menyiapkan semester 4 yang akan menjelang, tidak terasa kalau kemarin juga, kita telah menjalani dan menghadapi masa-masa praktikum yang katanya kayak seperti “neraka”, namun ternyata tidak. Tidak terasa kita telah menyelesaikan final project untuk sebagai syarat bagi kita agar lulus dari praktikum tersebut. Tidak terasa kan? Nah, sekarang apa yang teman dapat responi?
Anugerah. Kalimat itulah yang penulis responi jika pertanyaan diatas diajukan kepada penulis. Penulis percaya. Semua yang terjadi ini semata-mata bukan terjadi secara kebetulan. Melainkan karena anugerahNya yang heran dan luar biasa yang masih berlaku dalam hidup kita, seperti masih berlakunya hukum gravitasi di alam semesta ini. Penulis tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi jika anugerah yang Allah berikan kepada kita, Ia ambil. Bayangkan saja jika hukum gravitasi yang diungkapkan oleh Sir Isaac Newton tidak berlaku. Apa yang akan terjadi ya?
Kadang kita berpikir (atau seringkali), kemana saya akan pergi atau lakukan besok? “Apa yang akan terjadi berikutnya? Apakah rencana yang sudah saya buat sampai pada pekan ini akan berhasil?” BUkankah pertanyaan itu yang seringkali muncul didalam hati teman? Jika ya, coba kita lihat apa yang dikatakan Alkitab mengenai hari esok, “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting daripada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pakaian?” (Matius 6:25) Wow! Jika kita membaca satu perikop ini, Matius 6:25-34, penyertaan dan janji Tuhan sungguh amat luar biasa. Ia tidak akan pernah membiarkan kita teman! Apa itu artinya? Artinya adalah Ia selalu menemani kita kemanapun, dan dimanapun. Masihkan teman ragu akan kasih setiaNya?
Sekarang banyak jasa-jasa untuk mengetahui apa yang akan terjadi besok, kisah cinta, peruntungan, dll (baca: ramal). Dan tidak sedikit orang yang memanfaat jasa tersebut. Bahkan sebelum hal ini menjadi tren, banyak majalah-majalah anak muda ataupun koran tertentu yang memuat mengenai apa yang akan terjadi pada minggu berikutnya pada masing-masing zodiak. Dan kebanyakan orang pun percaya. Apa teman termasuk salah satu didalamnya? Apa teman percaya apa yang dikatakan oleh peramal daripada Firman Tuhan? Apa gara-gara kedengarannya lebih memuaskan telinga jika mendengar ramalan daripada Firman Tuhan?
Semuanya tergantung pada teman-teman. Memang, menyerahkan hidup ini total sepenuhnya kepada Tuhan itu luar biasa sulitnya. Seringkali kita tidak rela jika Tuhan meminta seluruh jiwa dan roh kita ini diserahkan total kepada Tuhan. Berpikir seribu kali karena kita berpikir apa yang telah kita rencanakan hingga 10 tahun kedepan itu adalah baik serta memiliki aset yang bagus. Tapi coba teman renungkan hal ini: Jika saudara berpikir hingga 10 tahun kedepan, maka Allah telah menyiapkan hal yang luar biasa baik hingga kekekalan. Mana yang saudara pilih?
Menjalani hidup ini bersama Allah merupakan pengalaman yang luar biasa. Ia tahu jalan mana yang menuntun kita kepada kekekalan. Ia tahu mana yang terbaik bagi kita. Itu sebabnya mengapa Daud bermazmur pada pasal 23 “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.” Daud sudah mengerti apa yang menjadi kehendakNya. Pilihan yang didapatkan Daud pasti sangat banyak, namun Daud memilih untuk berjalan bersamaNya meskipun dalam lembah kekelaman, sebab Daud tahu, melalui jalan tersebutlah jalan kekekalan terbuka.
Jadi, mana yang akan saudara pilih?




